Sabtu, 02 Agustus 2014

Pameran CPHI SEA penting untuk industri farmasi di Indonesia

Jakarta - Pameran CPhI SEA 2014 yang digelar di Jakarta dua bulan lalu, mempunyai arti penting untuk industri farmasi di Indonesia. Pameran bahan baku tersebut salah satu rantai kesediaan obat di Indonesia.
Menurut Ketua Kode Etik GP Farmasi Indonesia bapak Syamsul Arifin
sangatlah penting untuk digelar di Indonesia. Dalam wawancaranya di booth GP Farmasi Indonesia / PMMC bersama wartawan, menurut bapak Syamsul Arifin pameran itu salah kalau diartikan banyak pengunjungnya, tetapi kualitas dari pameran tersebut. Pameran CPhI SEA 2014 ini merupakan pameran yang diikuti oleh beberapa negara ASEAN. Pengunjung  pameran CPhI SEA 2014 adalah dari kalangan industri farmasi terutama industri farmasi Indonesia yang ada sekitar 200 industri dan lainnya industri negara-negara ASEAN.
"Salah satu pameran CPHI, misalnya di China, ketua delegasinya adalah pak Kendrariadi untuk Indonesia, yang mewakili seluruh industri farmasi di Indonesia," tutur beliau sambil tersenyum menoleh ke bapak Kendrariadi.
Kalau kita nilai dari sisi pamerannya dan barang atau produk yang dipamerkan oleh produsen-produsen tersebut tidaklah penting, dan yang terpenting adalah hubungan baik dari para produsen bahan baku tersebut. Karena dengan hubungan baik dengan produsen bahan baku tersebut kita bisa mendapatkan informasi yang penting dan lebih mendetil.Cara berjualan melalui online belum bisa diterapkan, karena perlunya informasi dan penjelasan produk yang lebih detil menurut Ketua Kode Etik GPFI.
Pertama, dari hubungan baik inilah kita bisa menjalin kerjasama bisnis untuk memenuhi kebutuhan bahan baku farmasi di Indonesia.
Kedua, produk baru yang dihasilkan oleh produsen bahan baku yang akan menjadi prinsipal kita.
Misalnya produk baru bahan baku hepatitis "C" yang berasal dari Korea, mereka harus segera mendaftarkan produk baru tersebut di Indonesia supaya bisa masuk pasar di Indonesia.
Menurut penjelasan dari bapak Syamsul Arifin, produk bahan baku yang baru dan  masuk Indonesia harus segera didaftarkan oleh pemilik paten tersebut, jika tidak didaftarkan berarti paten tersebut terbuka untuk siapapun untuk mendaftarkanya, seperti yang diterapkan oleh China, India, Korea dan beberapa di dunia. (tph)

2 komentar:

  1. INDUSTRI FARMASI SULIT TERAPKAN ATURAN PRODUK HALAL
    Asosiasi Perusahaan Farmasi meminta Pemerintah dan DPR merevisi Undang-Undang (UU) Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Selain memberatkan dunia usaha dan sulit diterapkan, UU tersebut berpotensi.
    Readmore: http://indonesia-pharmacommunity.blogspot.com/2015/02/industri-farmasi-sulit-terapkan-aturan.html

    BalasHapus