Jumat, 01 Agustus 2014

Tahun 2014, Industri Makanan dan Minuman Masih Menghadapi Sejumlah Tantangan

JAKARTA – Industri makanan dan minuman diperkirakan masih akan menghadapi sejumlah tantangan pada 2014. Meskipun dihadapkan pada peluang meningkatnya konsumsi masyarakat karena penyelenggaraan Pemilu 2014, berbagai kebijakan dan kondisi perekonomian nasional masih akan berpotensi menekan pertumbuhan sektor ini.


Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman mengatakan, nilai tukar rupiah yang semakin terus melemah berdampak pada meningkatnya harga pokok produksi. Tercatat hingga akhir 2013, nilai kurs dollar US mencapai Rp 12,000 menurun tajam dibandingkan awal tahun 2013 yaitu Rp 9,500 USD. “ Nilai tukar ini terutama terasa untuk pembelian bahan baku industry makanan dan minuman yang masih impor, seperti gandum, gula , dll. Tekanan ini masih terasa hingga 2014” ujar Adhi pada Selasa (21/1).

Selain itu, Adhi menjelaskan, kenaikan Upah Minimum Propinsi (UMP) yang rata-rata mencapai 9 hingga 30% pada 2014 memaksa pelaku usaha melakukan penyesuaian pada komponen biaya produksi. “Tahun ini ancaman kenaikan harga Tarif Dasar Listrik juga sudah di depan mata,industry makanan minuman yang berada dalam golong I 3 akan naik sekitar 38%,”tambahnya. Belum lagi, kenaikan BI Rate hingga 7,5% pada akhir 2013 menyebabkan naiknya suku bunga pinjaman.

Menurut Adhi, kondisi ini tidak hanya memukul pengusaha besar, melainkan juga berdampak pada pengusaha UMKM makanan dan minuman yang kebanyakan masih informal. Selain harus mampu bersaing dengan produk-produk local, UMKM dihadapkan pada membanjirnya produk impor ke pasar Indonesia.

Adhi memaparkan, data ekspor impor Kementerian Perdagangan untuk kategori processed and semi processed food , hingga September 2013 trend eksport naik 6,7% sementara impor naik 5,9% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2012. “Namun demikian, balance trade masih negatif sebesar USD 1,251 milliar,” ujar Adhi.

Sekretaris Jendral GAPMMI, Franky Sibarani menambahkan, pada 2013 industri makanan dan minuman diperkirakan tumbuh sekitar 5%. Ia memaparkan , kenaikan harga pangan dan melemahnya ekspor juga berperan dalam menekan pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman. Dia mengatakan kompetitor dari negara lain yang produknya lebih murah terus berproduksi dan melebarkan pangsa pasarnya ke Indonesia.”Artinya akan banyak produk murah yang masuk ke pasar dalam negeri dengan kualitas bersaing. Produk impor tidak mengalami kenaikan biaya produksi sedangkan dalam negeri kebalikannya,” ujar Franky.

Franky menambahkan adalah meningkatnya pengangguran terbuka di Indonesia yang mencapai 7,39 juta orang per Agustus 2013, sehingga menjadi salah satu penyebab menurunnya daya beli masyarakat. Angka pengangguran tersebut tersebut meningkat dari data Februari 2013 sebesar 7,17 juta orang. “Tahun lalu industry makanan dan minuman juga dihadapkan pada kenaikan BBM, yang mendorong naiknya biaya produksi dan biaya logistic/transportasi sekitar 30% “ tambahnya.

Franky juga menilai, beberapa kebijakan public yang diluncurkan pemerintah juga masih kontra produktif terhadap daya saing industry ini. Kebijakan tersebut antara lain dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan no 30/2013 mengenai Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam dan Lemak Serta Pesan Kesehatan Untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji yang mewajibkan pelaku usaha makanan dan minuman mencantumkan peringatan kesehatan di kemasannya. “ Tahun ini Kementerian Kesehatan akan melakukan Total diet study (TDS), kami berharap hasilnya dapat menjadi acuan mengenai apa saja yang harus dilakukan bersama-sama untuk mengedukasi masyarakat agar terhindar dari risiko penyakit tidak menular” kata dia.

Selain itu, ancaman penerapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap bahan baku PET yang banyak digunakan oleh industri makanan dan minuman. “Kenaikan BMAD 10% saja kemungkinan akan mengerek biaya produksi 10-15%, sehingga akan menyebabkan naiknya produk makanan dan minuman” tambah Franky. Ia menghimbau pemerintah agar melihat hal ini sebagai kebijakan menyeluruh yang dapat mengancam kepentingan industri makanan dan minuman secara nasional. Mengedepankan national interest akan lebih bermanfaat dibandingkan hanya mementingkan sektoral

Sebagai penutup, Franky berharap, pemerintah dapat terus berupaya menstabilkan perekonomian nasional dengan menjaga nilai tukar rupiah dan laju inflasi, agar industri makanan dan minuman dapat menikmati pertumbuhan yang optimal. (GAPMMI)

0 komentar:

Posting Komentar